Pengikut

Selamat Datang di Web Log "Menulis Proposal Penelitian" Untuk bergabung dan memperoleh up-date posting silakan klik Join This site. Jika ada posting yang berguna, silakan copy dengan menyebutkan sumber. Jika ada pertanyaan, silakan isikan komentar pada kolom dibawah posting. Terimakasih

Gambaran Proses Penelitian Kualitatif: Tahap Pekerjaan Lapangan

Jumat, Januari 27, 2012

Tahap Pekerjaan Lapangan
Sebagai kelanjutan tahap Pra-Lapangan dalam penelitian kualitatif, maka tahap berikutnya adalah tahap pekerjaan lapangan. Pada tahap pekerjaan lapangan ini, sebagaimana ditulis Mudjiarahardjo, ada beberapa aktivitas yang penting untuk dilakukan, yaitu: (1) Penetapan metode (2) Penetapan sampel dan informan (3) Menentukan jumlah dan waktu berinteraksi dengan sumber data (4) Memperkirakan perlengkapan yang harus dipersiapkan (5) Melakukan proses pengumpulan data (6) Pemeriksaan keabsahan data (7) Menguji kebenaran dan mengurangi distorsi (8) Triangulasi data (9) Menilai kecukupan acuan dalam menarik simpulan

  1. Penetapan metode. Sepanjang pelaksanaan penelitian, ternyata penyempurnaan tidak hanya menyangkut pusat perhatian penelitian, melainkan juga pada metode penelitiannya. Bogdan dan Taylor (1975:126) memang menegaskan agar para peneliti sosial mendidik (educate) dirinya sendiri. "To be educated is to learn to create a new. We must constantly create new methods and new approaches".
  2. Penetapan sampel dan informan. Konsep sampel dalam penelitian ini berkaitan dengan bagaimana memilih informan atau situasi sosial tertentu yang dapat memberikan informasi mantap dan terpercaya mengenai unsur-unsur pusat perhatian penelitian. Pemilihan informan dapat mengikuti pola bola salju (snow ball sampling). Bila pengenalan dan interaksi sosial dengan responden berhasil maka ditanyakan kepada orang tersebut siapa-siapa lagi yang dikenal atau disebut secara tidak langsung olehnya.
  3. Menentukan jumlah dan waktu berinteraksi dengan sumber data.Dalam menentukan jumlah dan waktu berinteraksi dengan sumber data, peneliti menggunakan konsep sampling yang dianjurkan oleh Lincoln dan Guba (1985), yaitu maximum variation sampling to document unique variations. Peneliti akan menghentikan pengumpulan data apabila dari sumber data sudah tidak ditemukan lagi ragam baru. Dengan konsep ini, jumlah sumber data bukan merupakan kepedulian utama, melainkan ketuntasan perolehan informasi dengan keragaman yang ada. Dalam kenyataannya, tidak semua penduduk bisa memberikan data yang diperlukan. Karena itu, harus ditetapkan sumber data yang akan dilakukan pengumpulan data.
  4. Memperkirakan perlengkapan yang harus dipersiapkan.Karena data utama penelitian diperoleh berdasarkan interaksi dengan responden dalam latar alamiah, maka beberapa perlengkapan dipersiapkan hanya untuk memudahkan, misalnya : (1) tustel, (2) tape recorder, dan (3) alat tulis termasuk lembar catatan lapangan. Perlengkapan ini digunakan apabila tidak mengganggu kewajaran interaksi sosial.
  5. Melakukan proses pengumpulan data. Pengamatan dilakukan dalam suasana alamiah yang wajar. Pada tahap awal, pengamatan lebih bersifat tersamar. Teknik ini seringkali memaksa peneliti melakukan penyamaran. Misalnya: untuk mengamati aspek-aspek yang berhubungan dengan perilaku dan gaya hidup, peneliti beranjang-sana di rumah informan. Sambil berbincang-bincang, peneliti mencermati cara berbicara, berpakaian, penataan ruang, gaya bangunan rumah, benda-benda simbolik dan sebagainya. Ketersamaran dalam pengamatan ini dikurangi sedikit demi sedikit seirama dengan semakin akrabnya hubungan antara pengamat dengan informan. Ketika suasana akrab dan terbuka sudah tercipta, peneliti bisa mengkonfirmasikan hasil pengamatan melalui wawancara dengan informan. Dengan wawancara, peneliti berupaya mendapatkan informasi dengan bertatap muka secara fisik danbertanya-jawab dengan informan. Dengan teknik ini, peneliti berperan sekaligus sebagai piranti pengumpul data. Selama wawancara, peneliti juga mencermati perilaku gestural informan dalam menjawab pertanyaan. Untuk menghindari kekakuan suasana wawancara, tidak digunakan teknik wawancara terstruktur. Bahkan wawancara dalam penelitian ini seringkali dilakukan secara spontan, yakni tidak melalui suatu perjanjian waktu dan tempat terlebih dahulu dengan informan. Dengan ini peneliti selalu berupaya memanfaatkan kesempatan dan tempat-tempat yang paling tepat untuk melakukan wawancara. Selama kegiatan lapangan peneliti merasakan bahwa pengalaman sosialisasi, usia dan atribut- atribut pribadi peneliti bisa mempengaruhi interaksi peneliti dengan informan. Semakin mirip latar belakang informan dengan peneliti, semakin lancar proses pengamatan dan wawancara.Sebaliknya, ketika mewawancarai informan yang berbeda latar belakang, peneliti harus menyesuaikan diri dengan mereka. Banyak ragam cara menyesuaikan diri. Di antaranya dengan cara berpakaian, bahasa yang digunakan, waktu wawancara, hingga penyamaran seolah-olah peneliti memiliki sikap dan kesenangan yang sama dengan informan. Karena kendala itu, pengumpulan data terhadap penduduk asli, baik penglaju dan lebih-lebih yang bukan penglaju, berjalan agak lamban. Kejenuhan, bahkan rasa putus-asa kadang-kadang muncul dan menyerang peneliti. Dalam keadaan demikian, peneliti beristirahat untuk mengendapkan, membenahi catatan lapangan, dan merenungkan hasil-hasil yang diperoleh. Dengan cara ini, peneliti bisa menemukan informasi penting yang belum terkumpul. Kedekatan antara tempat tinggal peneliti dengan informan ternyata sangat membantu kegiatan lapangan. Secara tidak sengaja peneliti bisa bertemu dengan informan, sehingga pembicaraan setiap saat bisa berlangsung. Kendati tidak dirancang, bila hasil percakapan itu memiliki arti penting bagi penelitian, akan dicatat dan diperlakukan sebagai data penelitian. Pada dasarnya wawancara dilaksanakan secara simultan dengan pengamatan. Kadang-kadangwawancara merupakan tindak-lanjut dari pengamatan. Misalnya, setelah mengamati suasana rumah tangga dan keluarga informan, peneliti menuliskan hasilnya dalam bentuk catatan lapangan. Wawancara dilakukan setelah itu untuk mengungkapkan makna dari setiap hasil pengamatan yang menarik.Penelaahan dokumentasi dilakukankhususnya untuk mendapatkan data konteks. Kajian dokumentasi di lakukan terhadap catatan-catatan, arsip- arsip, dan sejenisnya termasuk laporan-laporan yang bersangkut paut dengan permasalahan penelitian. Perekaman dokumen menjadi lebih mudah karena dokumen, baik dari kelurahan maupun dari Kotamadya cukup lengkap. Agar tidak menyulitkan lembaga yang menyediakan, peneliti meminta ijin untuk menfoto-copy dokumen-dokumen yang diperlukan atau menyalinnya ke dalam catatan peneliti.
  6. Pemeriksaan keabsahan data.  Pemeriksaan keabsahan(trustworthiness) data dalam penelitian ini dilakukan dengan empat kriteria sebagaimana dianjurkan oleh Lincoln dan Guba (1985: 289-331). Masing-masing adalah derajat: (1) kepercayaan (credibility), (2) keteralihan (transferability), (3) kebergantungan (dependability), dan (4) kepastian (confirmability). Untuk meningkatkan derajat kepercayaan data perolehan, dilakukan dengan teknik: (1) perpanjangan keikut-sertaan, (2) ketekunan pengamatan, (3) triangulasi, (4) pemeriksaan sejawat, (5) kecukupan referensial, (6) kajian kasus negatif, dan (7) pengecekan anggota.
  7. Menguji kebenaran dan mengurangi distorsi.Kegiatan lapangan penelitian, sangat mungkin bisa atau menuntut harus diperpanjang. Dengan pertimbangan bahwa peningkatan waktu dapat memunculkan informasi baru, maka lama kegiatan lapangan diperpanjang. Dengan perpanjangan waktu ini, seperti dikemukakan Moleong (1989), peneliti dapat mempelajari "kebudayaan", menguji kebenaran dan mengurangi distorsi. Dengan mengamati secara tekun, peneliti bisa menemukan ciri-ciri atau unsur-unsur dalam suatu situasi yang sangat relevan dengan peran penglaju dalam perubahan sosial di Bandulan. Bila perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman.
  8. Triangulasi data. Triangulasi dilakukan untuk melihat gejala dari berbagai sudut dan melakukan pengujian temuan dengan menggunakan berbagai sumber informasi dan berbagai teknik. Empat macam triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pemeriksaandengan memanfaatkan sumber, metode, penyidik dan teori.Meskipun Lincoln dan Guba (1985) tidak menganjurkan triangulasi teori, tampaknya Patton (1987: 327) berpendapat lain. Menurutnya, triangulasi antar teori tetap dibutuhkan sebagai penjelasan banding (rival explanation). Dalam penelitian ini, penempatan teori lebih mengikuti anjuran Bogdan dan Taylor (1975). Menurut mereka, teori memberikan suatu penjelasan atau kerangka kerja penafsiran yang memungkinkan peneliti memberi makna pada kekacauan data (morass of data) dan menghubungkan data dengan kejadian-kejadian dan latar yang lain. Karena itu, sangat penting bagi peneliti untuk mengetengahkan temuannya dengan perspektif teoretik lain, khususnya selama tahap pengolahan data penelitian yang intensif. Pengamatan dan wawancara tidak terstruktur yang diterapkan dalam penelitian ini memang menghasilkan data yang masih kacau. Untuk memilah dan memberi makna pada data tersebut, peneliti tidak bisa tidak harus berpaling kepada teori-teori sosiologi dan antropologi yang relevan. Pemeriksaan sejawat (checking members) dilakukan dengan cara mengetengahkan (to expose) hasil penelitian, baik yang bersifat sementara maupun hasil akhir, dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat. Dengan cara ini peneliti berusaha mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran, dan mencari peluang untuk menjajaki dan menguji hipotesis yang muncul dari peneliti (pemikiran peneliti). Sebelum menetapkan temuan sebagai kecenderungan pokok, peneliti melakukan pengecekan anggota. Ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan berapa proporsi kasus yang mendukung temuan, dan berapa yang bertentangan dengan temuan. Bila ada penyimpangan dalam kasus-kasus tertentu, peneliti menelaahnya secara lebih cermat. Telaah lebih cermat terhadap kasus-kasus yang menyimpang sering disebut sebagai analisis kasus negatif. Teknik ini dilakukan untuk menelaah kasus-kasus yang saling bertentangan dengan maksud menghaluskan simpulan sampai diperoleh kepastian bahwa simpulan itu benar untuk semua kasus atau setidak-tidaknya sesuatu yang semula tampak bertentangan, akhirnya dapat diliput aspek-aspek yang tidak berkesesuaian tidak lagi termuat. Dengan kata-kata lain dapat dijelaskan "duduk persoalannya".
  9. Menilai kecukupan acuan dalam menarik simpulan.  Selain itu, peneliti juga menguji kecukupan acuan dalam menarik simpulan. Kecukupan acuan dalam penelitian ini dilakukan dengan mengajukan kritik internal terhadap temuan penelitian. Berbagai bahan digunakan untuk meneropong temuan penelitian. Usaha meningkatkan keteralihan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara "uraian rinci" (thick description). Untuk itu, peneliti melaporkan hasil penelitiannya secermat dan selengkap mungkin yang menggambarkan konteks dan pokok permasalahan secara jelas. Dengan demikian, peneliti menyediakan apa-apa yang dibutuhkan oleh pembacanya untuk dapat memahami temuan-temuan. Kebergantungan penelitian ini diupayakan dengan audit kebergantungan. Dalam hal ini peneliti memberikan hasil penelitian dan melaporkan proses penelitian termasuk "bekas-bekas" kegiatan yang digunakan. Berdasarkan penelusurannya, seorang auditor dapat menentukan apakah temuan-temuan penelitian telah bersandar pada hasil di lapangan. Kepastian penelitian ini diupayakan dengan memperhatikan topangan catatan data lapangan dan koherensi internal laporan penelitian. Hal ini dilakukan dengan cara meminta berbagai pihak untuk melakukan audit kesesuaian antara temuan dengan data perolehan dan metode penelitian.
  1. Analisi Data Penelitian Kualitatif Model Spradley
  2. Analisis Data Penelitian Kualitatif Model Interaktif Menurut Miles dan Hubermen
  3. Analisis isi (content analysis) dalam Penelitian Kualitatif
  4. Beberapa Model Analisis Data dalam Penelitian Kualitatif
  5. Contoh Panduan FGD dalam Penelitian Kualitatif
  6. Contoh Panduan Wawancara Mendalam dalam Penelitian Kualitatif
  7. Discourse Analysis (Analisis wacana) dalam penelitian kualitatif
  8. Fokus Penelitian dan Penelitian Kualitatif
  9. Format Desain Penelitian Kualitatif
  10. Gambaran Proses Penelitian Kualitatif: Tahap Pasca Lapangan
  11. Gambaran Proses Penelitian Kualitatif: Tahap Pekerjaan Lapangan
  12. Gambaran Proses Penelitian Kualitatif: Tahap Pra-Lapangan
  13. Jenis dan Pendekatan Penelitian Kualitatif
  14. Keabsahan Data Penelitian Kualitatif
  15. Masalah dalam penelitian kualitatif
  16. Metode Focus Group Discussion (FGD) dalam Penelitian Kualitatif
  17. Metode Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif
  18. Metode Studi Dokumen dalam pengumpulan data Penelitian Kualitatif
  19. Metode Wawancara Mendalam (Indepth-Interview) dalam Penelitian Kualitatif
  20. Metodologi Penelitian Kualitatif
  21. Pendekatan Biografikal dalam Penelitian Kualitatif
  22. Pendekatan Etnografi dalam Penelitian Kualitatif
  23. Pendekatan Fenomenologi Transendental Husserl dalam Penelitian Kualitatif
  24. Pendekatan Fenomenologi dalam Penelitian Kualitatif
  25. Pendekatan Grounded Theory dalam Penelitian Kualitatif
  26. Pendekatan Studi Kasus (Case Study) dalam Penelitian Kualitatif
  27. Pengantar Metodologi Penelitian Kualitatif
  28. Perkembangan Paradigma Metodologi Penelitian: Dari Positivistik, Post-Positivistik (Interpretif), hingga Hermeneutika
  29. Reduksi Data dalam analisis penelitian kualitatif menurut Miles & Huberman
  30. Reliabilitas Penelitian Kualitatif
  31. Rumusan Masalah dalam Penelitian Kualitatif
  32. Sistematika Penelitian Kualitatif
  33. Teknik Analisis Data Penelitian Kualitatif
  34. Teknik Moderasi Focus Group Discussion (FGD) dalam Penelitian Kualitatif

Best regards,

5 comments:

agen sbobet mengatakan...

artikel yg bagus utk para mahasiswa

berita unik mengatakan...

mantap ni tuk yg lagi siswa2 skrg

dominoqq mengatakan...

poker online terpercaya

salam sukses semua

Fangyaya mengatakan...

coach outlet
gucci outlet
gucci bags
toms outlet
louis vuitton outlet
louis vuitton outlet
asics outlet
cheap jordan shoes
ray ban sunglasses
replica watches
pandora jewelry
beats wireless headphones
coach outlet
adidas nmd
christian louboutin sale
polo ralph lauren outlet
christian louboutin shoes
cheap jordans
michael kors outlet
louis vuitton handbags
jordans
louis vuitton outlet
louis vuitton handbags
celine handbags
louis vuitton handbags
nike air force
tods shoes
louis vuitton outlet
nike outlet
michael kors outlet
supra sneakers
replica watches
supra shoes
adidas originals
fake watches
coach outlet
michael kors outlet
michael kors outlet clearance
cheap oakley sunglasses
20167.28chenjinyan

Meiqing Xu mengatakan...

coach outlet
birkenstock
coach outlet clearance
micahel kors
canada goose jackets
true religion outlet
ugg boots outlet
coach outlet
asics outlet
gucci borse
michael kors outlet clearance
michael kors handbags
birkenstocks
louis vuitton outlet
nike store uk
ugg outlet online
longchamp bag
ralph lauren outlet online
ugg outlet
nike air max
yeezy boost 350 black
christian louboutin sale
coach outlet
jimmy choo outlet store
coach outlet
armani exchange
toms shoes
nike huarache
fitflops shoes
christian louboutin shoes
kd 9 shoes
reebok outlet
coach outlet
nike free flyknit 4.0
christian louboutin shoes
ZHUO20160818

 
 
 

Eine Sprache ist Eine Libensform

Tulisan merupakan lambang bahasa. Bahasa mengungkapan fikiran kita. Tulisan kita dapat mencerminkan apa yang ada dalam fikiran kita. Bahkan hidup kita! Banyak tulisan yang mengilhami penemuan-penemuan besar dunia, namun tidak sedikit ide-ide cemerlang kita tidak punya arti apa-apa. Seringkali, hanya karena orang lain tidak mengerti apa yang kita ungkapkan. Itulah maknanya bahasa dan arti penting sebuah tulisan.

Temukan Saya

Selamat Datang. Ini adalah ruang publik, untuk sekedar berbagi pengetahuan dan pengalaman. Bersama saya Cokroaminoto, untuk berdiskusi masalah Perencanaan Kesehatan untuk membangun kinerja staff, atau bagaimana Menulis Proposal dan Laporan Penelitian untuk kertas kerja (working-paper), Karya Tulis Ilmiah (KTI), Skripsi, Thesis atau sejenisnya atau tertarik untuk melihat dari dekat keragaman budaya Nusantara. Atau membaca biografi saya, koleksi file atau download materi kuliah saya.

Di wordpress.com atau blogetery.com, anda dapat menemukan juga blog saya, tulisan isteri dan anak saya. Terima kasih.

Buku Tamu