Pengikut

Selamat Datang di Web Log "Menulis Proposal Penelitian" Untuk bergabung dan memperoleh up-date posting silakan klik Join This site. Jika ada posting yang berguna, silakan copy dengan menyebutkan sumber. Jika ada pertanyaan, silakan isikan komentar pada kolom dibawah posting. Terimakasih

Perkembangan Paradigma Metodologi Penelitian: Dari Positivistik, Post-Positivistik (Interpretif), hingga Hermeneutika

Senin, Januari 30, 2012

Pengantar

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat serta tuntutan manusia untuk memperoleh kebenaran secara lebih komprehensif, maka metodologi penelitian sebagai sebuah disiplin yang bertujuan untuk memperoleh kebenaran juga mengalami pergeseran, khususnya pada aspek epistemologis. Jika selama ini landasan paradigmatik penelitian dikembangkan secara dikotomik dan tajam antara paradigma positivistik (yang menjadi dasar metode penelitian kuantitatif) dan paradigma interpretif (yang menjadi dasar metode penelitian kualitatif), maka sekarang mendikotomikan kedua paradigma tersebut tidak lagi relevan. Sebab, kenyataannya, menurut Yusufhadi Miarso (2005: 1),  penelitian kuantitatif dan kualitatif  bisa dipakai secara bersama-sama dalam satu proyek penelitian.

Tidak jarang penelitian kuantitatif memerlukan data kualitatif untuk memperkuat penjelasannya, dan sebaliknya penelitian kualitatif memerlukan data kuantitatif sebagai data pendukung. Misalnya, peneliti kualitatif bidang pendidikan yang melakukan kajian terhadap menurunnya nilai Ujian Nasional pada bidang studi tertentu tentu memerlukan data kuantitatif berupa skor atau nilai ujian berupa angka.

Selain itu, hasil akhir penelitian kuantitatif yang berupa angka perlu pemaknaan secara lebih mendalam dan spesifik secara kualitatif. Sebaliknya, penelitian kualitatif yang berakhir dengan tesis atau proposisi dan hanya berlaku dalam lingkup yang sempit dan spesifik perlu diaplikasikan dalam lingkup yang lebih luas dengan menggunakan populasi. Karena itu, paradigma interpretif tidak dilihat sebagai paradigma tandingan (counter paradigm) terhadap paradigma positivistik, melainkan suatu paradigma lanjutan atau (continuum paradigm).  Karena tidak lagi dipandang sebagai tandingan, maka paradigma interpretif bisa juga disebut sebagai paradigma post-positivistik. Di luar kedua paradigma tersebut, hermeneutika hadir sebagai paradigma dan sekaligus varian lain metode penelitian kualitatif, khususnya untuk memahami teks secara lebih komprehensif.
Namun demikian, memahami secara komprehensif mengenai landasan filsafat dan cara pandang masing-masing paradigma tetap sangat penting.

Landasan  filosofis masing-masing paradigma, terutama dari aspek sejarah kelahirannya, dan cara memandang dan memperoleh kebenaran

Positivistik

  1. berasal dari tradisi ilmu alam dan ilmu eksakta, dipelopori oleh filsuf Perancis, August Comte, (1798-1875).
  2. dimulai dari teori/hipotesis.
  3. dunia dipandang sebagai sesuatu yang sudah tertata secara sistematik, terpola dan obyekif.
  4. bertujuan untuk memperoleh generalisasi dengan cara mencari hubungan antar-variabel
  5. diperlukan populasi, sampel, variabel, dan uji validitas instrument.
  6. kebenaran yang dicari adalah sesuatu yang telah ada.
  7. research, yang artinya mencari kembali, logikanya sesuatu yang dicari itu telah ada sebelumnya.
  8. karena itu, tugas peneliti adalah menemukan kebenaran yang selama ini belum ditemukan lewat proses deduktif .
  9. penelitian ini bersifat value-free. Artinya, peneliti tidak terikat dengan topik penelitian. Misalnya, penelitian tentang “Pengaruh perubahan iklim terhadap produkti-vitas pertanian”, peneliti tidak bisa mempengaruhi hasil penelitian tersebut. Tugas peneliti adalah menjelaskan apa yang terjadi apa adanya secara obyektif, sehingga peneliti disebut sebagai pengamat obyektif terhadap peristiwa yang diteliti.
  10. pengetahuan merupakan kenyataan atau fakta yang dapat diverifikasi secara empirik dan dapat diukur dalam angka melalui statistik.
  11. tidak mencari makna di balik sesuatu yang tampak.
  12. yang termasuk dalam paradigma ini adalah:
  • penelitian eksperimen
  • kuasi eksperimen
  • survei
  • penelitian korelasional
  • penelitian ex-post facto
  • sensus

Interpretif/Post-positivistik

  1. berasal dari tradisi ilmu sosial, khususnya sosiologi dan antropologi, yang diawali oleh  kelompok ahli sosiologi dari “mazhab Chicago” pada tahun 1920-1930.
  2. pada tahun 1960 di Amerika dan pada 1970-an di negara-negara berbahasa Jerman, paradigma interpretif mengalami kebangkitan
  3. Sejak saat itu, paradigma ini berkembang pesat, khususnya dalam ilmu sosial dan humaniora
  4. dunia dipandang sebagai sesuatu yang tidak tertata dan terpola secara obyektif, sehingga diperlukan pendekatan khusus untuk memahami setiap gejala yang muncul
  5. tidak seperti paradigma positivistik yang dimulai dari teori/hipotesis, paradigma interpretif dimulai dari suatu fenomena yang selanjutnya didalami untuk menghasilkan teori
  6. tujuannya ialah untuk memahami makna atas  pengalaman seseorang atau sekelompok orang dalam suatu peristiwa
  7. pengalaman bukan kenyataan empirik yang bersifat obyektif, melainkan pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa yang dilalui seseorang
  8. kebenaran diperoleh lewat pemahaman secara holistik, dan tidak semata tergantung pada data atau informasi yang teramati, melainkan pula mendasarkan pada informasi yang tidak tampak dan digali secara rinci
  9. akal sehat (common sense)  bisa menjadi landasan mencari kebenaran
  10. kebenaran bersifat unik, dan tidak bisa berlaku secara umum dan diperoleh lewat proses induktif
  11. penelitian ini bersifat value-bound, sehingga peneliti terlibat secara aktif bersama subyek untuk memperoleh kebenaran
  12. yang termasuk dalam paradigma ini adalah:

Hermeneutika

  1. berasal dari tradisi gereja sebagai metode eksegesis (penafsiran teks-teks agama) dan kemudian berkembang menjadi “filsafat penafsiran” kehidupan sosial.
  2. istilah hermeneutika muncul pertama kali pada karya seorang teolog  Jerman  bernama Johann Konrad Danhauer (1603-1666) berjudul : Hermeneutica sacra, Sive methodus Eksponendarums Sacrarum Litterarum,
  3. dikembangkan oleh tokoh-tokoh mulai F.D.E. Schleiermacher ( 1768- 1834),  Wilhelm Dilthey, Hans-Georg Gadamer, hingga Paul Ricoeur, Jurgen Habermas, Jacques Derrida, Foucault, Lyotard, Baudrillard.
  4. tujuannya ialah memperoleh kebenaran dengan cara menafsirkan  teks berdasarkan konteks yang sedang berlangsung
  5. pengkaji hermeneutika harus memiliki pra-pemahaman atau prejudice atas obyek yang dikaji, sehingga tidak mungkin untuk memulainya dengan pemikiran netral.
  6. dunia tidak dipandang sebagai sesuatu yang obyektif dan subyektif, melainkan hasil interpretasi pengkajinya sesuai konteks yang sedang berlangsung
  7. kebenaran tidak bersifat analitik (seperti dalam paradigma positivistik) dan holistik (seperti dalam paradigma interpretif), melainkan sintetik, yaitu memadukan pendapat yang berlawanan secara dialektik.
  8. pendekatannya tidak deduktif dan induktif, melainkan sinkretik, yakni menggunakan berbagai pandangan secara teoretik dan praktik dengan memasukkan aspek-aspek moral, sosial dan politik. Seorang guru memberikan penilain akhir kepada muridnya tidak hanya berdasarkan atas hasil ujian saja, melainkan juga perilaku kesehariannya
  9. kebenaran diperoleh melalui penafsiran yang tidak memihak, walau diawali dengan pra-pengetahuan atau prejudice.
  10. kebenaran merupakan sesuatu yang dapat diterima oleh semua pihak
  11. studi ini bersifat value-bound
  12. ada dua jenis aliran hermeneutika, yaitu:
  • hermeneutika intensionalisme ( di mana makna teks diperoleh dari produsernya), dan
  • hermeneutika Gadamerian ( di mana makna teks berada pada tangan pembacanya).

Catatan akhir

Sebagaimana dikemukakan di awal tulisan ini, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta rasa ingin tahu (curiousity) manusia akan pentingnya kebenaran secara komprehensif, tidak bisa dihindari  metodologi penelitian, termasuk metode penelitian kualitatif, sebagai cara untuk memperoleh kebenaran terus mengalami perkembangan, terutama pada aspek metode perolehan kebenaran dan cara memandang kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh, metode penelitian kualitatif yang dimulai dari studi yang sangat sederhana dengan memaparkan peristiwa secara deskriptif kini berkembang hingga studi refleksif kritis yang sangat kompleks dan multi-perspektif sejak 25 tahun terakhir. Wilayah kajiannya pun tidak hanya terbatas pada satu disiplin ilmu, misalnya pendidikan saja, atau sejarah saja, tetapi juga melebar hingga bidang-bidang seperti seni, bahasa, sastra, teologi, filsafat, bahkan fisika kuantum, sehingga menjadikan kekayaan khasanah baik secara metodologis maupun perspektif teoretik. Oleh karena itu, mengikuti perkembangan metodologi penelitian menjadi sangat penting bagi para peminat metodologi penelitian pada bidang apapun. Paradigma positivistik dan post-positivistik serta hermeneutika masing-masing tidak lagi dipandang sebagai tandingan atas yang lain, melainkan suatu kontinum metodologis yang saling melengkapi dan bisa dipakai secara bersama-sama.

Dalam perkembangan lebih lanjut, para peminat metodologi penelitian kini ditantang untuk mendalami lebih jauh mengenai perspektif ideologi baru dalam penelitian seperti paradigma post-modernisme, paradigma kritis atau refleksif, pendekatan feminisme, pendekatan konstruktivisme, pendekatan Content Analysis, Discourse Analysis, dan Critical Discourse Analysis. Belakangan para pengkaji teks juga mengembangkan pendekatan Content Analysis yang positivistik menjadi Qualitative Content Analysis yang lebih bersifat post-positivistik.

Buku berjudul “Qualitative Research in Postmodern Times: Exemplars for Science, Mathematics and Technology” yang diedit oleh Peter  Charles Taylor dan John Wallace,  yang diterbitkan oleh SAGE Publications di London  pada 2007, menurut Mudjiarahardjo, bisa membuka cakrawala baru bagi para peminat dan pengkaji metodologi penelitian.
Wal hasil, tidak bisa dipungkiri, metodologi penelitian merupakan disiplin yang sangat menantang.

Daftar Pustaka
  1. Flick, Uwe, Ernst von Kardoff and Ines Steinke (eds.), 2004. A Companion to QUALITATIVE RESEARCH. London, Thousand Oaks, New Delhi: Sage Publications.
  2. Pospoprodjo, W. 1987. INTERPRETASI: Beberapa catatan pendekatan filsafatinya. Bandung:  REMADJA KARYA CV.
  3. Rahardjo, Mudjia. 2006. Hermeneutika: Para Tokoh dan Gagasannya, 2006, Editor: Moh. In'am Esha, M.Ag.,  Malang: UIN Malang Press.
  4. Taylor, Peter Charles and John Wallace (eds.). 2007. Qualitative Research in Postmodern Times: Exemplars for Science, Mathematics and Technology Educators. AA Dordrecht, The Netherlands:Springer.
  5. Yusufhadi Miarso, 2005. “Landasan Berpikir dan Pengembangan Teori dalam penelitian Kualitatif”, dalam Jurnal Pendidikan Penabur – No. 05/Th. IV/Desember 2005 63.

  1. Analisi Data Penelitian Kualitatif Model Spradley
  2. Analisis Data Penelitian Kualitatif Model Interaktif Menurut Miles dan Hubermen
  3. Analisis isi (content analysis) dalam Penelitian Kualitatif
  4. Beberapa Model Analisis Data dalam Penelitian Kualitatif
  5. Contoh Panduan FGD dalam Penelitian Kualitatif
  6. Contoh Panduan Wawancara Mendalam dalam Penelitian Kualitatif
  7. Discourse Analysis (Analisis wacana) dalam penelitian kualitatif
  8. Fokus Penelitian dan Penelitian Kualitatif
  9. Format Desain Penelitian Kualitatif
  10. Gambaran Proses Penelitian Kualitatif: Tahap Pasca Lapangan
  11. Gambaran Proses Penelitian Kualitatif: Tahap Pekerjaan Lapangan
  12. Gambaran Proses Penelitian Kualitatif: Tahap Pra-Lapangan
  13. Jenis dan Pendekatan Penelitian Kualitatif
  14. Keabsahan Data Penelitian Kualitatif
  15. Masalah dalam penelitian kualitatif
  16. Metode Focus Group Discussion (FGD) dalam Penelitian Kualitatif
  17. Metode Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif
  18. Metode Studi Dokumen dalam pengumpulan data Penelitian Kualitatif
  19. Metode Wawancara Mendalam (Indepth-Interview) dalam Penelitian Kualitatif
  20. Metodologi Penelitian Kualitatif
  21. Pendekatan Biografikal dalam Penelitian Kualitatif
  22. Pendekatan Etnografi dalam Penelitian Kualitatif
  23. Pendekatan Fenomenologi Transendental Husserl dalam Penelitian Kualitatif
  24. Pendekatan Fenomenologi dalam Penelitian Kualitatif
  25. Pendekatan Grounded Theory dalam Penelitian Kualitatif
  26. Pendekatan Studi Kasus (Case Study) dalam Penelitian Kualitatif
  27. Pengantar Metodologi Penelitian Kualitatif
  28. Perkembangan Paradigma Metodologi Penelitian: Dari Positivistik, Post-Positivistik (Interpretif), hingga Hermeneutika
  29. Reduksi Data dalam analisis penelitian kualitatif menurut Miles & Huberman
  30. Reliabilitas Penelitian Kualitatif
  31. Rumusan Masalah dalam Penelitian Kualitatif
  32. Sistematika Penelitian Kualitatif
  33. Teknik Analisis Data Penelitian Kualitatif
  34. Teknik Moderasi Focus Group Discussion (FGD) dalam Penelitian Kualitatif

Best regards,

0 comments:

 
 
 

Eine Sprache ist Eine Libensform

Tulisan merupakan lambang bahasa. Bahasa mengungkapan fikiran kita. Tulisan kita dapat mencerminkan apa yang ada dalam fikiran kita. Bahkan hidup kita! Banyak tulisan yang mengilhami penemuan-penemuan besar dunia, namun tidak sedikit ide-ide cemerlang kita tidak punya arti apa-apa. Seringkali, hanya karena orang lain tidak mengerti apa yang kita ungkapkan. Itulah maknanya bahasa dan arti penting sebuah tulisan.

Temukan Saya

Selamat Datang. Ini adalah ruang publik, untuk sekedar berbagi pengetahuan dan pengalaman. Bersama saya Cokroaminoto, untuk berdiskusi masalah Perencanaan Kesehatan untuk membangun kinerja staff, atau bagaimana Menulis Proposal dan Laporan Penelitian untuk kertas kerja (working-paper), Karya Tulis Ilmiah (KTI), Skripsi, Thesis atau sejenisnya atau tertarik untuk melihat dari dekat keragaman budaya Nusantara. Atau membaca koleksi file atau download materi kuliah saya. Di wordpress.com atau blogetery.com, anda dapat menemukan juga blog saya, tulisan isteri dan anak saya. Terima kasih.

Buku Tamu